
Lebih Dari Sekadar Klinik Estetika. Di Prossi, kami percaya bahwa perawatan bukan hanya tentang penampilan tetapi tentang bagaimana seseorang merasa lebih sehat, lebih percaya diri, dan lebih nyaman dengan dirinya sendiri.
Stres dapat memperburuk jerawat melalui perubahan hormon, peningkatan produksi minyak, dan peradangan pada kulit. Sebaliknya, jerawat juga bisa membuat seseorang merasa stres dan kurang percaya diri. Karena itu, mengatasi jerawat tidak hanya perlu dilakukan dengan perawatan kulit yang tepat, tetapi juga dengan mengelola stres dan menjaga kesehatan mental. Jika jerawat tidak kunjung membaik atau semakin parah, konsultasikan dengan dokter spesialis kulit untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Pernahkah jerawat muncul saat kamu sedang stres, seperti menjelang ujian, menghadapi deadline pekerjaan, atau banyak pikiran? Ternyata, stres memang bisa memengaruhi kondisi kulit dan memperburuk jerawat. Hubungan ini berkaitan dengan perubahan hormon dan respons tubuh saat mengalami stres. Yuk, kenali bagaimana stres bisa memicu jerawat dan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya!
Jerawat Bukan Sekadar Masalah Kulit
Jerawat (acne vulgaris) merupakan masalah kulit yang terjadi ketika folikel rambut tersumbat oleh minyak berlebih dan sel kulit mati, sehingga memicu peradangan. Bakteri Cutibacterium acnes juga dapat berperan dalam proses munculnya jerawat.
Penyebab jerawat tidak hanya berasal dari kondisi kulit, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perubahan hormon, faktor genetik, pola makan, dan gaya hidup. Selain itu, stres psikologis juga dapat memperburuk kondisi jerawat. Saat mengalami stres, tubuh mengalami perubahan hormon dan respons peradangan yang bisa memengaruhi kesehatan kulit. Oleh karena itu, jerawat tidak hanya perlu ditangani dari luar, tetapi juga dengan memperhatikan kondisi tubuh dan kesehatan mental.
Bagaimana Stres Memengaruhi Kulit? Ini Penjelasannya
Kulit ternyata bisa merespons stres yang dialami tubuh. Saat stres, tubuh mengalami perubahan hormon dan sistem kekebalan yang dapat memengaruhi kondisi kulit. Berikut beberapa cara stres dapat memperburuk jerawat:
1. Perubahan Hormon Stres. Saat mengalami stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol. Kulit juga memiliki sistem yang dapat merespons stres. Perubahan hormon ini bisa memengaruhi produksi minyak dan kondisi kulit.
2. Produksi Minyak Berlebih. Penelitian menunjukkan bahwa hormon Corticotropin-Releasing Hormone (CRH) yang berkaitan dengan stres dapat merangsang sel penghasil minyak di kulit. Jika produksi minyak berlebihan, pori-pori lebih mudah tersumbat dan risiko munculnya jerawat dapat meningkat.
3. Meningkatkan Peradangan. Stres yang berlangsung lama dapat meningkatkan peradangan dan mengganggu fungsi pelindung kulit. Akibatnya, jerawat bisa menjadi lebih meradang dan membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.
4. Mengubah Kebiasaan Sehari-hari. Saat stres, seseorang cenderung sulit tidur, memiliki pola makan yang tidak teratur, atau lebih sering menyentuh dan memencet jerawat. Kebiasaan ini dapat memperburuk kondisi kulit dan meningkatkan risiko iritasi maupun bekas jerawat.
5. Hubungan Usus, Otak, dan Kulit. Stres juga diduga dapat memengaruhi keseimbangan bakteri di usus dan memicu peradangan dalam tubuh. Kondisi ini mungkin berdampak pada kesehatan kulit. Namun, hubungan antara usus, stres, dan jerawat masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan mekanismenya pada manusia.
Hubungan Dua Arah: Jerawat Juga Memengaruhi Kesehatan Mental
Hubungan antara stres dan jerawat ternyata bisa terjadi dua arah. Stres dapat memperburuk jerawat, tetapi jerawat juga bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang. Jerawat yang cukup parah dapat membuat seseorang merasa kurang percaya diri, tidak nyaman dengan penampilannya, bahkan mengalami kecemasan dan gejala depresi. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki jerawat cenderung lebih berisiko mengalami depresi dan kecemasan dibandingkan mereka yang tidak berjerawat.
Kondisi ini bisa membentuk lingkaran yang sulit diputus. Saat stres, jerawat bisa semakin parah. Sebaliknya, ketika jerawat memburuk, seseorang bisa semakin stres dan khawatir dengan kondisi kulitnya. Karena itu, penanganan jerawat sebaiknya tidak hanya berfokus pada kesehatan kulit, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional dan kesehatan mental.
Yang Perlu Diluruskan
Stres bukan satu-satunya penyebab jerawat, dan tidak semua orang yang mengalami stres akan berjerawat. Namun, bagi orang yang memang rentan berjerawat, stres bisa memicu munculnya jerawat atau membuat kondisi jerawat yang sudah ada menjadi lebih parah.
Faktor lain, seperti perubahan hormon dan faktor genetik, juga berperan penting dalam munculnya jerawat. Jadi, jangan menyalahkan diri sendiri jika jerawat muncul saat sedang banyak pikiran. Yang terpenting adalah memahami penyebabnya dan merawat kulit dengan tepat.
Langkah Praktis yang Bisa Dilakukan
1. Kelola stres secara aktif. Teknik relaksasi, latihan pernapasan, meditasi, olahraga teratur, dan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu menurunkan beban stres.
2. Jaga kualitas tidur. Usahakan tidur cukup dan teratur karena kurang tidur memperberat respons stres tubuh.
3. Terapkan perawatan kulit dasar. Bersihkan wajah dua kali sehari dengan pembersih lembut, gunakan pelembap non-komedogenik dan tabir surya.
4. Jangan memencet jerawat. Kebiasaan ini meningkatkan risiko peradangan, infeksi, dan bekas luka.
5. Perhatikan pola makan. Pola makan seimbang membantu kesehatan secara umum, meskipun pengaruh makanan tertentu terhadap jerawat masih diteliti.
6. Konsultasi ke dokter. Jika jerawat meradang parah, meninggalkan bekas, atau tidak membaik dengan perawatan mandiri, temui dokter spesialis kulit. Bila jerawat disertai rasa cemas, sedih berkepanjangan, atau hilangnya semangat, pertimbangkan juga berbicara dengan psikolog atau psikiater.
Kesimpulan
Stres dapat memperburuk jerawat melalui perubahan hormon, peningkatan produksi minyak, dan peradangan pada kulit. Sebaliknya, jerawat juga bisa membuat seseorang merasa stres dan kurang percaya diri. Karena itu, mengatasi jerawat tidak hanya perlu dilakukan dengan perawatan kulit yang tepat, tetapi juga dengan mengelola stres dan menjaga kesehatan mental. Jika jerawat tidak kunjung membaik atau semakin parah, konsultasikan dengan dokter spesialis kulit untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Klik DISINI untuk reservasi.
Referensi :
1. Chiu A, Chon SY, Kimball AB. The response of skin disease to stress: changes in the severity of acne vulgaris as affected by examination stress. Arch Dermatol. 2003;139(7):897-900.
2. Yosipovitch G, Tang M, Dawn AG, et al. Study of psychological stress, sebum production and acne vulgaris in adolescents. Acta Derm Venereol. 2007;87(2):135-139.
3. Zari S, Alrahmani D. The association between stress and acne among female medical students in Jeddah, Saudi Arabia. Clin Cosmet Investig Dermatol. 2017;10:503-506.
23 Oktober 2026
Kulit kendur setelah turun berat badan merupakan kondisi yang umum terjadi, terutama setelah penurunan berat badan dalam jumlah besar. Kenali penyebabnya, cara mengencangkan kulit dengan aman, serta pilihan treatment non-operasi seperti radiofrequency dan ultrasound untuk membantu meningkatkan kekencangan kulit. Simak panduan lengkapnya dan temukan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan kulitmu bersama dokter di Prossi Clinic.
29 September 2026
Kok pas ramadhan jerawat malah muncul? padahal lagi puasa dan makan lebih sedikit? Banyak orang berpikir puasa seharusnya bikin kulit lebih bersih karena frekuensi makan berkurang. Tapi kenyataannya,...
17 Oktober 2026
Kulit kendur merupakan salah satu perubahan yang sering terjadi seiring bertambahnya usia. Kondisi ini membuat kulit terlihat kurang kencang, terutama di area pipi, rahang, leher, dan kelopak mata. Untuk mengatasinya, ada berbagai pilihan perawatan, mulai dari perawatan kulit di rumah hingga tindakan medis. Namun, setiap orang bisa membutuhkan perawatan yang berbeda. Pilihan perawatan perlu disesuaikan dengan kondisi kulit, tingkat kekenduran, usia, biaya, serta waktu pemulihan yang dibutuhkan.